SELAMAT DATANG DI WWW.QQDOMINO.NET BONUS NEW MEMBER 10% | CASHBACK 0.3% | REFERRAL 10%, CONTACT PERSON : LINE CSQQDOMINO | PIN BB 2B5C98BD

Jumat, 11 Desember 2015

CERITA SEX ANTARA CINTA DAN SEKOLAH


Cerita Sex Antara Cinta dan Sekolah –  Saya adalah seorang mahasiswi di sebuah perguruan tinggi ternama di jakarta. Pada kesempatan ini, saya ingin membagikan pengalaman saya. Saya berasal dari keluarga yang pas – pasan. Untuk hidup sehari -hari saja susah. Di sekolah Pun saya termasuk murid yang tidak terlalu pintar. Untuk naik kelas aja susah.

RENI :
Tetapi, aku tetap bersyukur karena walaupun lemah di bidang pelajaran dan ekonomi, tetapi aku masih dikaruniai wajah yang cantik dan body yang sexy. Dengan ukuran buah dadaku yang 34B dan tinggi 165 cm serta berat 50 kg tak heran banyak pria yang mengejar-ngejarku. Tetapi tak satupun dari mereka yang kuperhatikan, hanya Heri, temanku sejak SD yang bisa menarik hatiku.
Hubunganku dengan Heri pada awalnya hanya sekedar persahabatan saja. Namun lama kelamaan berubah menjadi rasa sayang dan cinta. Kami sudah berpacaran 2 tahun ketika aku masih duduk di bangku kelas 2 SMU. Hubungan kami pun belum terlalu jauh. Baru sampai pada tahap Petting saja. Itupun baru 1 kali kami lakukan. Karena kami takut kalau – kalau sampai keterusan.

Heri sangat menghargai wanita dan dia ingin agar keperawananku tetap utuh sampai kita menikah nanti. Mungkin inilah daya tariknya yang tak dimiliki pria lain. Saya juga semakin mencintai Heri. Ini dikuatkan oleh suatu kejadian yang terjadi sewaktu kenaikan kelas saya ke kelas 3. Pada kesempatan ini, saya ingin membagi pengalaman saya tersebut.
Suatu siang selepas pelajaran, saya sudah bersiap – siap pulang bersama Heri yang sudah menungguku di tempat parkir dengan mobil Escudonya. Saya dengan Heri memang tidak sekelas. Dia dimasukkan ke kelas unggulan karena memang otaknya yang bener-bener encer. Namun tiba – tiba, saya dikejutkan oleh suara Pak Ronal yang memanggilku.

Pak Ronal adalah guru Matematikaku. Dia termasuk guru yang muda dan tampan yang ada di sekolahku. Dia baru berumur 25 tahun. Hanya berselisih 8 tahun denganku pada saat itu. Selain itu ia juga pintar dalam menarik perhatian murid – muridnya dalam menerangkan pelajaran. Itu sebabnya ia termasuk salah satu guru favorit di sekolah ini. Hubunganku dengan Pak Ronal pun sudah cukup dekat. Sebab memang dia itu guru yang asik buat dijadikan teman dan juga guru.

 photo 728x90_zpslh42jus4.gif

“Ada apa, Pak?” sahutku
“Ren, Apa kamu tahu kalau nilai matematikamu jeblok?” tanyanya
“Iya pak.” jawabku singkat
“Apa kamu gak takut kalo gak naik kelas?” tanyanya dengan mimik heran
“Takut sih, Pak. Tapi mau gimana lagi. Kemampuan saya kan pas – pasan” jawabku dengan cueknya
“Kamu kan bisa belajar yang baik.” Sarannya.

“Saya sih sudah mencoba pak. Tapi tetap saja. Apa bapak bisa membantu agar nilai matematika saya mencukupi agar naik kelas?” Kataku sambil teringat kondisi kedua orangtuaku di rumah yang untuk hidup saja pas – pasan, apalagi mau menanggung biaya sekolahku yang harus bertambah 1 tahun lagi gara-gara gak naik kelas.
“Bisa aja sih, Tapi ada syaratnya.” Katanya sambil memandang nakal padaku
“Apa itu pak? Kalau bisa pasti saya penuhi.” Jawabku dengan antusias

“Kalau kamu mau, kamu datang saja hari minggu nanti ke rumah saya. Ada yang mau saya sampaikan mengenai kenaikan kelasmu.” Katanya serius.
“Kenapa harus ke rumah Bapak? Kenapa tidak di sekolah saja?” Tanyaku heran
“Ya gak apa – apa sih. Cuma kalau di sekolahkan ngomongnya tidak leluasa. Emangnya kamu takut sama Bapak ya? Kamu kan sudah kenal cukup dekat sama bapak.” Katanya sambil tersenyum.
“Bukannya takut, Pak. Tapi bingung aja.” kataku.

“Ya udah. Tapi kamu mau kan?” Tanyanya penuh harap.
“Ya udah deh pak.” Jawabku
Sayapun segera beranjak pergi menuju tempat parkir. Haduh Heri pasti kesel nih nunggu lama. Sayapun langsung menghampiri Heri yang udah nunggu dari tadi di mobil.
“Hai, Ren.. Kok lama?” Sapa Heri
“Iya niCh, Her. Tadi dipanggil dulu ama Pak Ronal.” Jawabku
“Pak Ronal? Pak Ronal yang guru Matematika itu?” Tanyanya heran.
“Iya, Her. katanya nilai matematika gue jeblok nih. Gue terancam gak naik kelas.” Keluhku.
“Waduh, Ren. Kalau lu gak naik kelas, lu jadi adik kelas gua dong.” Goda Heri.

“Ye.. Jangan harap ya! Tapi gua kasihan nih ama keluarga gua kalau gua ampe gak naik kelas.” Kataku tak mau kalah.
“Udah gak usah sedih. Kan masih ada Heri di sini yang siap membantu. Lu kapan ada waktu? Biar gua ke rumah lu buat ngajarin lu.” Katanya dengan bangga
“Bener nih, Her? Hm.. Kapan yah? Kalo hari Sabtu sore bisa gak?” Tanyaku penuh harap.
“Kok Sabtu? Napa gak Minggu aja? Kan lebih asik.” dengan bingung dia bertanya.

“Ya gak apa apa sih. Cuma kan Minggu tuh waktu buat santai.” Kataku untuk menyembunyikan rencanaku untuk bertemu Pak Ronal. Aku takut Heri berpikir yang macam – macam.
“Ye nih anak.. Mau naik kelas tapi masih pake acara santai – santaian lagi. Ya udah deh.” Katanya sambil mengacak-ngacak rambutku.
Hari Sabtu sore Heri datang ke rumahku. Dia mengajariku Matematika. Namun, yang kuperhatikan justru cara dia menjelaskan yang lucu. Bukan pelajarannya. Akhirnya sampai pelajaran yang diberikan Heri selesai, tak satupun yang nyangkut di otakku. Aku hanya pura – pura mengerti untuk menyenangkan hatinya.

Selesai belajar, kami pergi makan malam di sebuah restoran ternama di Jakarta. Ditemani cahaya lilin yang romantis kami berbincang – bincang tentang berbagai hal, termasuk rencana kami untuk bertunangan selepas SMU. Setelah makan malam selesai, Heri mengantarku pulang. Kami sempat berciuman di mobil. Heri memang lihai dalam memainkan lidahku. Dia juga romantis sekali orangnya.
Akhirnya, hari Minggupun tiba. Saya berangkat ke rumah Pak Ronal dengan naik angkot. Ketika saya sampai di alamat yang dimaksud saya agak terkejut karena ternyata rumah Pak Ronal cukup besar untuk ukuran seorang bujangan. Saya mengetuk pintu.

 photo 728x90_zpslh42jus4.gif

Tok.. tok.. Tok..
“Iya bentar” Terdengar suara pria yang kukenali sebagai suara Pak Ronal.
Pintu pun terbuka, dan terlihatlah wajah Pak Ronal yang tersenyum kepadaku.
“Silahkan masuk, Ren. Maaf agak berantakan. Maklum masih bujangan” katanya sambil tersenyum.
“Gak apa – apa kok, Pak. Saya sih maklum aja.” Kataku.
Sayapun masuk ke dalam rumah itu. Setelah dipersilahkan duduk, Saya pun duduk di sofa yang berwarna biru muda itu.

“Mau minum apa, Ren?” Tanya Pak Ronal.
“Ah.. Terserah bapak saja lah. Apa aja juga boleh..” Jawabku.
“Teh saja ya.. Kan masih pagi.” Katanya sambil beranjak ke dapur untuk membuatkan teh untukku.
“Waduh.. saya jadi gak enak nih, Pak. Masa’ Bapak membuatkan teh untuk muridnya.” Kataku dengan rasa tidak enak.
“Ya gak apa – apalah. Kan saya jadi guru kalau di sekolah saja. Kalau di rumah ya saya tetap Ronal. Jadi jangan sungkan-sungkan ya.” Katanya sambil tersenyum.
Kemudian Pak Ronal pun menyuguhkan teh untuk saya. Setelah menghirup seteguk, Pak Ronal pun memulai pembicaraan.

“Sebenarnya saya hanya ingin mengajak kamu ngobrol, Ren. Katanya kamu berhubungan dengan Heri yang anak kelas 2a itu ya?” tanyanya.
“Iya pak. Kami sudah pacaran 2 tahun.” jawabku.
“Oh.. udah lama juga dong ya. Kalau bapak boleh tahu, hubungan kamu sudah sejauh apa sama dia?” tanyanya penasaran.
“Ehm..” Saya terdiam sejenak
“Oh ya udah gak apa-apa kok kalo gak boleh tahu. Bapak kan cuma iseng mau nanya.” katanya agak kecewa.
“Hm.. Kalau boleh tahu apa tujuan bapak memanggil saya ke rumah Bapak?”

“Ya kamu kan udah tahu. Ini mengenai kenaikan kelasmu. Kamu kan tahu kalau nilaimu itu pas-pasan. Terus kemarin kamu nanya Bapak apa Bapak bisa bantu. Ya Bapak mau bicarain cara membantumu itu.” katanya sambil tersenyum.
“Oh ya udah.. Bapak punya cara apa untuk membantu saya? Kalau uang sih saya tidak punya pak. Saya kan dari keluarga pas-pasan.”
“Tidak.. saya tidak minta uang. Saya tulus kok membantumu. Reni, apa kamu tahu kalau selama ini di kelas Bapak selalu memperhatikanmu. Sebenarnya Bapak tertarik sama kamu, Ren.”
“Hm.. Terus maksud Bapak?”
“Ya.. Walaupun ini tidak etis. Tapi maukah kamu menukar nilai kenaikan kelasmu dengan tubuhmu itu. Bapak tidak memaksa kok. Kalau kamu bersedia, saya berjanji akan menjamin kamu naik kelas. Kalau tidak ya gak apa-apa.”
Saya terkejut dengan pernyataan Pak Ronal barusan. Memang selama ini beliau selalu memperhatikan saya. Tapi saya menganggap perhatian itu adalah perhatian yang diberikan seorang guru terhadap muridnya.

“Hm.. Bagaimana ya Pak. Tapi kenapa bapak memilih saya bukan yang lain?” tanyaku heran.
“Karena kamu adalah orang yang bapak idam-idamkan sejak dulu. Lagi pula Bapak sering terangsang melihatmu di kelas yang kadang-kadang tidak mengenakan bra.” katanya agak sungkan.
Kata-kata Pak Ronal barusan membuat mukaku langsung merah seperti kepiting rebus. Memang selama ini saya kadang-kadang tidak memakai bra ke sekolah. Ini supaya sepulang sekolah, kegiatan saya dengan Heri tidak terhambat. Memang selama ini, kami sering melakukan ciuman-ciuman dan raba meraba sepulang sekolah di mobilnya Heri. Tapi saya tak menyangka hal ini pun diperhatikan Pak Ronal.
“Hm.. ” aku bingung harus berkata apa.

“Kamu tak perlu takut begitu, Reni. Bapak memberi kebebasan kok buat kamu. Kalau boleh tahu, apakah kamu masih perawan, Ren.”
“Hm.. iya, Pak. Saya dan Heri hanya sampai pada tahap Petting saja.”
Kataku sambil terbayang kondisi keluargaku yang memprihatinkan.
“Bagaimana, Ren? Apakah kamu mau?”

Kembali terbayang kondisi keluargaku jika aku tidak naik kelas. Tapi jika aku menerima tawaran Pak Ronal, berarti aku telah mengkhianati Ronal. Aku benar-benar bingung pada saat itu.
“Hm.. Tapi apakah Bapak akan melakukan Penetrasi? Saya masih perawan Pak.. Saya agak takut. Katanya itu sangat sakit. Lagi pula saya takut kalau saya menyakiti perasaan Heri.” kataku sedih.
“Kalau kamu takut menyakiti perasaan Heri, apakah kamu pernah berpikir kalau-kalau bisa saja Heri sudah pernah melakukannya dengan wanita lain sehingga dia tidak mau melakukannya denganmu?” hasut Pak Ronal

Kata-kata Pak Ronal itu ada benarnya juga. Sebab selama ini, ketika saya sudah sangat terangsang ketika petting dan meminta heri untuk penetrasi, ia menolak. Apakah dia hanya Jaga image di depanku? Kembali godaan-godaan setan berkecamuk di kepalaku.
“Lagipula kalau kamu takut sakit, tenang saja.. Bapak tidak akan memaksa melakukan penetrasi kok. Tapi kalau kamu setuju, Bapak baru akan melakukannya. Kamu berpikir saja dulu, saya ke dapur dulu sebentar ya..”

Pak Ronal pun beranjak ke dapur. Entah apa yang dilakukannya. Aku pun kembali sibuk berpikir. Sampai akhirnya kuputuskan untuk menerima tawaran itu dan saya akan menolak sewaktu dia akan melakukan penetrasi. Sebab kalau sekadar petting saja, Heri pasti tidak akan curiga. Tak lama kemudian, Pak Ronal kembali dengan membawa 2 buah gelas dan sebotol bir.
“Bagaimana, Ren? Kamu sudah berpikir?” tanyanya penuh harap.

“Ya udah deh, Pak. Saya mau. Tapi ingat jangan sampai Heri tahu ya, Pak. Dan juga bapak harus menjamin kenaikan kelas saya.” kataku mantap.
Pak Ronal pun tersenyum. Senyumnya sangat menawan. Memang ia sangat tampan. Bahkan boleh dikatakan lebih tampan dari Heri.
“Terima kasih, Ren. Saya berjanji kamu akan naik kelas. Tunggu sebentar yah”
Pak Ronal pun beranjak ke kamar. Saya merasa tegang juga melakukan hal yang biasa kulakukan dengan Heri kini kulakukan dengan Pak Ronal, guruku. Tak lama kemudian, Pak Ronal keluar dengan mengenakan kaus tanpa lengan dan celana panjang. Terlihat otot-ototnya yang menawan.

“Kamu tegang ya, Reni? Kamu tenang aja. Oh ya, kamu jangan memanggilku dengan sebutan Pak lagi, Ronal saja cukup.” katanya sambil duduk di sampingku
“Iya deh, Pak.. eh.. Ron” Aku masih canggung dengan panggilannya yang baru.
“Mari diminum dulu, Reni.. Mungkin dengan ini kamu akan merasa lebih baik.” katanya sambil menuangkan bir untukku.
Saya pun meminum Bir yang diberikan Pak Ronal itu.

Kepalaku terasa agak pusing. Pak Ronal yang paham akan kondisiku itu memijat-mijat kepalaku. Pijatannya terasa nyaman.
Tanpa sengaja tangan Pak Ronal menyentuh buah dadaku. Kebetulan pada waktu itu saya tidak memakai bra. Sehingga sentuhannya barusan membuat sensasi tersendiri bagiku yang sedang mabuk. Bibir kamipun bersentuhan. Ronal mulai menciumiku. Dia melumat bibirku perlahan-lahan dari atas lalu ke bawah, lalu dia mulai menyelipkan lidahnya diantara kedua bibirku. sayapun membalas ciumannya dengan melumat kedua belahan bibirnya. Kemudian lidah kami saling berpagut satu sama lain. Aku menjilati seluruh mulutnya dan kuhisap lidahnya. Pandai juga guruku ini memainkan lidahku. Tak kalah hebatnya dengan Heri.

Sementara kami berciuman, tangan Ronal menjelajahi seluruh permukaan tubuhku. Seluruh permukaan tubuhku tak ada yang luput dari jamahannya. Akupun semakin bergairah diperlakukan seperti itu. Tanganku membalas perlakuan Ronal dengan menjelajahi dadanya yang bidang. Tanpa sengaja tanganku menyentuh daerah bawahnya, terasa kalau ada sesuatu yang keras sedang mengganjal di sana.
“Ren, bukain bajuku dong..” pinta guruku itu.
Akupun menuruti permintaannya dan membuka bajunya itu dengan rasa agak canggung. Ronal sepertinya memahami perasaanku. Dia kembali melumat bibirku dan tangannya mulai meremas payudaraku yang masih terbalut pakaian lengkap. Aku semakin terbakar gairah.

Bajukku pun satu persatu ditanggalkan. Kini aku hanya memakai celana dalam. Demikian juga dengan Ronal. Penisnya terlihat menonjol dengan hanya dibalut dengan celana dalam berwarna hitam. Aku semakin bernafsu dibuatnya. Ronal meremas-remas payudaraku dengan arah searah jarum jam. lidahnya menjilati celah antara kedua gunungku. aku serasa terbang ke langit ketujuh dibuatnya. Suatu perasaan yang belum pernah kudapat dari Heri.
Akupun tak mau kalah, kutarik celana dalam hitamnya sampai merosot kebawah. Terlihat penisnya yang berukuran 17cm dengan bulu lebat. Penisnya lebih panjang sedikit dari punyanya Heri. Tetapi punya Heri lebih besar diameternya. Lalu aku mulai mengocok penisnya dengan tanganku. Dengan gerakan yang semakin cepat dan semakin cepat. Tampaknya penisnya sudah berreaksi penuh. Akupun semakin bergairah melihatnya.

 photo 728x90_zpslh42jus4.gif

“Reni, oralin aku dong..” pintanya
Sebenarnya tanpa dimintapun, saya sudah pasti mau melakukannya. Melihat penisnya yang besar, aku semakin bernafsu saja. Dia dalam posisi duduk dan aku berjongkok di depannya dan mulai memasukkan penisnya ke dalam mulutku. Mulutku sampai terasa penuh oleh penisnya. Penisnya masuk sampai mendekati tenggorokanku. Aku mulai menjilati penisnya di dalam mulutku. Terdengar erangan kenikmatan dari mulutnya. Sementara itu, tangannya tetap meremas payudaraku. Remasannya menimbulkan rasa sakit. Namun nikmat yang ditimbulkannya, lebih luar biasa. Aku memang paling suka kalau payudaraku diremas dan dijilat.

Setelah kuoral selama lebih kurang 5 menit, penis itu tetap perkasa. Sekarang dia membaringkan aku di sofanya. Diturunkannya celana dalamku. Aku masih agak malu dilihatin dia yang notabene adalah guruku di sekolah. Aku mengambil bantal untuk menutupi daerah wanitaku itu. Namun dengan gesit ia menyingkirkan bantal itu dan menjilati vaginaku dengan posisi berlutut di sisiku. Sensasi yang kurasakan sangat luar biasa. Ia dengan lihai menggelitik daerah sekitar vaginaku.

Lalu dengan lidahnya ia memainkan klitorisku. Sensasinya sungguh luar biasa. Pandai sekali dia memainkan vaginaku. Vaginaku sampai sangat basah dibuatnya. Namun dia malah senang dengan menghisap cairan yang keluar dari vaginaku itu. Bahkan lidahnya semakin liar bermain di vaginaku. Desahanku sudah mirip dengan teriakan. Ia tampaknya masih belum puas mengerjaiku. Dia malah menusukkan lidahnya ke dalam vaginaku. Memang tidak sampai terlalu dalam. Tapi kenikmatan yang kurasa sungguh luar biasa.

Diperlakukan seperti itu, aku tak bisa tinggal diam. Aku angkat pinggulku, agar lidahnya bisa menjilati seluruh bagian vaginaku. Tak berapa lama kemudian akupun orgasme. Aku merasakan seluruh permukaan tubuhku tegang dibuatnya. Akupun berteriak..
“ARGH..” Inilah orgasmeku yang pertama dengan guruku.

Setelah perasaanku tenang menikmati sisa-sisa rasa orgasme tadi. Dia tersenyum padaku sambil berkata.
“Udah keluar ya? Kita ganti suasana yuk.. Main di kamar aja ya..” Ajaknya sambil tersenyum penuh kemenangan.
Antara setengah sadar dan tidak saya mengangguk. Diapun segera menggendong saya ke kamarnya.

dia membaringkan saya di tempat tidurnya. Kemudian dia menyodorkan penisnya diantara kedua belahan dadaku. Akupun meremas penisnya dengan menggunakan vaginaku. Dia pun mendesah menahan nikmat. Dia kembali menjilati liang vaginaku. Vaginaku pun kembali basah dibuatnya. Rasanya vaginaku ingin ditusk dan digelitik-gelitik. Dia tampaknya bisa mengerti apa yang kurasakan.
“Ren, aku masukin ya..?” Mintanya dengan nada memelas.
Aku yang sudah terbawa nafsu mengiyakan permintaannya. Namun, ia masih mau mempermainkan saya. Ia menggesek-gesek penisnya di sekeliling vagina saya. Saya sampai memohon padanya agar memasukkan penisnya ke dalam vagina saya.

“Masukkin.. Cepet.. argh..” Pintaku.
Lalu, Ia mulai memasukkan penisnya perlahan-lahan. Agak sakit kurasa di sekitar vaginaku. Penisnya yang besar memasuki vaginaku yang masih sempit karena masih perawan. Setelah dia mendesak masuk dengan sekuat tenaga, penisnya baru masuk 1/2 bagian. Aku sudah menangis kesakitan. Teapi dia sangat lihai. Dia melumat bibirku dan meremas payudaraku sehingga membuat vaginaku lebih basah lagi. Dan akhirnya, penisnya masuk total ke dalam vaginaku.
“Argh.. Sempit sekali Ren memekmu..” erangannya membuatku makin bernafsu. rasa sakit tak kupedulikan lagi.

 photo 728x90_zpslh42jus4.gif

Setelah beberapa saat berada dalam vaginaku, ia mulai menarik 1/2 penisnya kemudian memasukkannya lagi. Ia terus melakukan gerakan ini berulang-ulang. Mula-mula terasa amat sakit buatku. Namun lama-kelamaan rasa sakit itu berubah menjadi rasa nikmat yang luar biasa. Gerakannya semakin cepat dan gencar. Gerakannya aku imbangi dengan goyangan pinggulku ke kiri dan ke kanan. Akhirnya, tak lama kemudian kamipun mencapai orgasme pada saat yang bersamaan. Spermanya bercampur dengan darah keperawananku keluar dari vaginaku. Setelah beberapa saat, Pak Ronal memecah keheningan
“Terima Kasih ya Ren. Kamu sudah mau memberi keperawananmu kepadaku.” katanya sambil tersenyum.

Aku menyesali perbuatanku itu. Aku telah mengkhianati Heri. Tanpa terasa air mataku mengalir keluar. Pak Ronal mengusap air mataku dengan tissue.
“Tenang saja, Ren. Jangan menangis lagi. Kamu pasti akan naik kelas.” kata Pak Ronal menenangkanku.
Akhirnya saya memang naik kelas ke kelas 3. Sebelum saya dan Heri bertunangan, saya menceritakan kejadian ini kepada Heri. Sebab saya merasa bersalah padanya. Namun, Heri memang pria yang baik. Ia tetap mau bertunangan denganku walaupun aku sudah tidak perawan lagi. Hubunganku dengannya tetap berjalan sampai sekarang. Aku sangat menyesal telah mengkhianatinya. Maafkan aku ya, Her.. Aku berjanji akan tetap setia sama kamu seumur hidupku.

BandarQiu
25.000
BCA - BNI - MANDIRI - BRI - DANAMON

 photo 200x200-1_zpsl0ok4zig.gif

POKERKIUKIU
15.000
 judi capsa

POKERVOVO
25.000

QQDOMINO
50.000
judi domino

AYO99
25.000

 Judi Poker