SELAMAT DATANG DI WWW.QQDOMINO.NET BONUS NEW MEMBER 10% | CASHBACK 0.3% | REFERRAL 10%, CONTACT PERSON : LINE CSQQDOMINO | PIN BB 2B5C98BD

Kamis, 10 Desember 2015

TANTE LOLA YANG NAKAL


Cerita Sex: Tante Lola Yang Nakal – Suasana rumah Tante Lola petang itu masih lengang. Hanya tampak satu sepeda motor milik Sendi dan sebuah mobil Kijang terbaru yang baru saja memasuki garasi. Sendi dan kakaknya, Rini, berlibur di rumah Tante Lola untuk mengisi liburan kenaikan kelas. Tante Lola sebagai wanita karier sering merasa kesepian karena ia belum bersuami. Ia sangat senang apabila ponakan-ponakannya berkunjung ke rumahnya, apalagi sampai menginap lama seperti yang dilakukan anak dari kakak pertama dan keduanya itu.

TANTE LOLA :

Sex Hot | Rini baru saja pulang dari rumah Yuli saat waktu menunjukkan pukul 19:00. Melihat suasana rumah kosong ia segera masuk kamar. Matanya tampak sembab menandakan ia baru saja menangis. Meskipun jauh-jauh hari Rini sudah merasakan perubahan sikap Joni, namun tetap saja kaget dengan keputusan kekasihnya itu untuk tidak meneruskan hubungan mereka lagi. Apalagi di telepon tadi, Joni yang mengatakan bahwa mereka tidak cocok seperti dibuat-buat saja. Tapi Rini juga bukan gadis yang lemah. Baginya, tidak ada alasan baginya untuk menjadi gadis yang cengeng diusianya yang telah menginjak delapan belas.

RINI :

Pintu kamar Rini tiba-tiba saja terbuka. Kepala Sendi muncul dari balik pintu sambil tersenyum.
“Baru datang, Kak?”, tanya Sendi sambil ngeloyor masuk meski kakaknya sedang berganti pakaian.
Sendi berjalan acuh tak acuh.
“Iya..”, jawab Rini singkat.

Pikirannya masih sumpek dengan kejadian tadi siang. Segera saja direbahkan badannya di kasur setelah mengganti baju perginya dengan daster tipis.
“Kok, lesu gitu.., Kenapa?”, Sendi yang baru kelas dua SMP itu menghampiri Rini.
Ia juga kemudian merebahkan badannya disamping kakaknya tersebut. Rini hanya diam saja seolah tidak mendengar pertanyaan adiknya. Matanya menerawang melihat langit-langit kamar. Sendi pun akhirnya memperhatikan sepupunya tersebut. Rini memang benar-benar cantik. Kadang-kadang ia merasa lebih senang kalau Rini bukan saudaranya. Mungkin karena seringkali ia tanpa sadar mengagumi tubuh Rini. Entah mengapa akhir-akhir ini minatnya terhadap wanita begitu meningkat. Ia bahkan suka sekali melihat-lihat pose wanita di majalah kosmopolitan milik kakaknya itu. Biasanya ia jadi terangsang dan onani di kamar mandi.

“Sret..”, Sepersekian detik posisi tangan Rini bergerak memangku kepalanya sendiri dan tanpa ia sadari belahan baju di dadanya menjadi terbuka.
Melihat hal demikian Sendi jadi sedikit canggung. Ia kebingungan sekaligus menyukai pemandangan itu. Sendi agak berdebar-debar ketika ia semakin jelas melihat lekuk buah dada kakaknya yang tampak ranum dan indah. Apalagi tampak tonjolan puting di balik daster tipis itu. Batang penisnya terasa sedikit mengeras.
Karena dorongan hasratnya, Sendi memberanikan diri perlahan-lahan mendekati tubuh Rini. Ia merangkul pinggang kakaknya tersebut. Merasakan sentuhan di tubuhnya, membuat rasa sedih Rini semakin mendalam. Air matanya mulai keluar dan ia segera membalikkan badan membelakangi adiknya. Ia tidak mau menangis di hadapan Sendi. Posisi demikian membuat Sendi bisa merangkul Rini dengan leluasa dari belakang.

“Kamu cantik deh.., malam ini..”, ucap Sendi tanpa sadar. Rini pun hanya diam saja. Yang ia butuhkan saat ini hanyalah ada orang yang menyayanginya.
Sendi kemudian melingkarkan tangannya ke pinggang Rini. Gadis yang merasa sedang bersedih itu sedikit bergerak lebih mendekatkan badannya ke dalam pelukan Sendi. Ia ingin ada orang yang menghiburnya disaat-saat seperti ini. Respon Rini ini membuat Sendi berani menggerakan tangannya dengan lembut untuk menyentuh bagian bawah buah dada sepupunya. Rini hanya memejamkan mata saja. Posisi tubuh yang berhimpitan itu membuat pikiran Sendi semakin tidak menentu. Apalagi batang penisnya yang berhimpitan dengan pantat Rini. Perlahan ia mulai meremas dengan halus buah dada sepupunya tersebut.

Rini pun dalam keadaan sedang sedih menjadi merasa sangat tenang karena adiknya seperti mengerti kesedihannya. Ia tahan terhadap seorang sepupu. Ia juga membiarkan telapak tangan Sendi membelai-belai buah dadanya yang memang tidak memakai beha. Belaian Sendi pada bagian tubuhnya yang sensitif tersebut membuat jantung Rini sedikit berdebar-debar. Tapi ia segera menganggap wajar sentuhan kasih sayang sepupunya tersebut.
Sendi pun mulai berani menciumi bagian tengkuk leher Rini sambil memasukkan tangannya ke dalam daster Rini. Perasaan Rini menjadi sedikit tidak karuan. Ia mulai menyadari bahwa sentuhan sepupunya bukan lagi sentuhan kasih sayang, tapi di satu sisi ia amat menikmati sentuhan itu. Terutama remasan telapak tangan Sendi terhadap puting susunya. Perasaan sedih yang sedang ia alami seperti berganti dengan keinginan untuk terus dibelai. Ia ingin menghentikan Sendi, namun sentuhan itu membangkitkan perasaan lain dalam kesedihannya. Sentuhan-sentuhan halus itu membuat bulu tengkuknya berdiri. Buah dadanya pun menjadi agak mengeras oleh karena sentuhan dan remasan lembut tangan Sendi.

“Sen, mmh.., udah ah.., aku kegelian”, akhirnya Rini berusaha menyudahi aktivitas itu.
“Ah, aku kan sayang sama kamu”, sahut Sendi sambil sedikit ngos-ngosan. Ia masih saja merabai tubuh sepupunya. “Engh, badanku jadi lemas semua nih”, tanpa sadar Rini berucap sambil setengah merengek.
Kemaluannya bagian bawah pun mulai terasa hangat dan lembab.

Sendi tidak menghiraukan perkataan sepupunya tersebut, ia masih terus meremas-remas payudara Rini. Malah ia mulai memasukkan satu tangannya ke dalam celana dalam sepupunya. Bulu-bulu halus di kemaluan Rini pun terasa di telapak tangan Sendi. Ia pun menyentuh bibir vagina sepupunya itu. Rini menggelinjang. Nafasnya mulai tidak terkontrol. Kesadarannya pun mulai hilang. Sekilas ia hanya menyadari bahwa ia sedang dicumbui oleh sepupunya sendiri. Kemaluannya sudah mulai berdenyut-denyut.

Sendi secara lembut namun penuh nafsu mulai merebahkan tubuh Rini. Kemaluannya seperti ingin membutuhkan sesuatu. Ditindihnya tubuh sepupunya dengan birahi yang mulai tidak terkontrol. Segera saja ia buka kancing daster sepupunya. Tampak dengan jelas kedua belah buah dada sepupunya yang indah itu dengan putingnya yang telah berdiri tegak. Ia langsung mengulumi puting buah dada sepupunya tersebut.
“Sen.., ngmhhnghh.., udah dong.., sshh”, ucap Rini ketika sekilas kesadarannya datang.
Namun Sendi sudak asyik dengan aktivitas birahinya. Lidahnya mempermainkan puting susu sepupunya dengan penuh perasaan. Mata Rini terpejam dan tangannya membelai kepala Sendi, merasakan kenikmatan jilatan-jilatannya.

Sendi akhirnya mulai tak sabar, ditariknya turun celana dalam sepupunya tersebut. Rini sudah benat-benar dikuasai nafsu. Ia tidak sadar ketika celana dalamnya terlepas. Sendi pun segera memelorotkan celana pendeknya sendiri sampai batang penisnya terlihat tegak. Dikangkangkannya kedua kaki Rini dengan perlahan. Kemaluan nya segera ia arahkan ke dalam pangkal paha Rini.
“Sleep!”, Setengah detik kemudian kemaluan Sendi mulai memasuki liang vagina Rini.

Terasa hangat dan empuk. Sesaat Rini seperti tersadar apa yang sedang terjadi, namun kesadarannya langsung hilang ketika Sendi mulai menggerakan pinggangnya naik turun.
Napas sendi semakin ngos-ngosan tak kala tubuhnya mulai bergerak menindih tubuh sepupunya yang mulus itu. Buah dada Rini bergoyang-goyang karena gerakan sodokan Sendi terhadap tubuhnya. Semuanya seperti tidak dapat dihentikan begitu saja. Kesadaran Rini pun telah musnah berganti kebutuhan untuk dicumbui. Ia akhirnya juga merespon gerakkan yang dilakukan sepupunya tersebut. Kemaluannya berdenyut-denyut ketika penis sepupunya terus bergerak dalam liang kemaluannya. Pinggangnya bergerak berputar-putar dan sambil merintih penuh rasa nikmat.
“Sen.., nghh enghhnak.., enghh terusshhsshh”, rintih Rini dalam kenikmatan.

Desahan Rini membuat nafsu Sendi semakin menjadi-jadi. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa gadis yang sedang ia setubuhi adalah kakak sepupunya sendiri. Konsentrasi Sendi hanyalah pada gerakan tubuhnya yang maju mundur. Batang penisnya seperti dipijit-pijit di dalam lubang kemaluan Rini. Ia semakin mempercepat gerakannya karena terasa sesuatu yang mendesak batang kemaluannya.
“Engghh.., yang.., engghh lebihhss kerassh..sshh”, Rini mendesah merasa saat itu dirinya telah membubung tinggi.

Sendi semakin mempercepat gerakannya. Bunyi kecepak-kecepuk menjadi semakin berirama. Sendi merasa kemaluannya seperti akan meledak. Gerakannya kini telah menjadi hentakan-hentakan. Rini masih terus memeluk erat tubuh sepupunya sambil matanya terus terpejam.
“Esshh.., Ahh.., ahh..ampirr.., ashh”, Rini mendesah-desah.
Ia merasa tubuhnya sudah hampir mencapai puncak. Gerakan tubuh keduanya menjadi sangat cepat.
Tiba-tiba Sendi menghentakkan badannya dengan keras dan lama ke dalam tubuh sepupunya. Kedua tubuh itu tampak bergetar. Tangan Rini pun memeluk tubuh Sendi tak kalah eratnya. Keduanya telah sampai dipuncak kenikmatan.

Adegan kedua sepupu itu tanpa disadari sebenarnya dilihat oleh Tante Lola dari balik pintu. Tante Lola benar-benar bingung dengan apa yang dilihatnya. Ia sebenarnya ingin segera memasuki kamar itu namun ia segera menyadari bahwa hal itu dapat memperburuk keadaan. Beberapa saat kemudian Tante Lola melihat keduanya tampak tertidur. Kedua ponakannya itu terkulai lemas dalam keadaan telanjang. Dengan perlahan ia memasuki kamar itu dan mendekati ranjang tempat dua ponakannya tertidur lelap.
Ia mulai menatap wajah kedua ponakannya dengan rasa galau. Mungkin karena aku terlalu sibuk sehingga hal ini sampai terjadi ucapnya dalam hati. Dengan perlahan ia mulai menaiki kasur dan mendekatkan badannya pada tubuh Rini. Dipeluknya gadis ponakannya itu dengan penuh rasa kasih sayang. Melihat tubuh gadisnya yang sintal dengan buah dada yang ranum membuatnya tersadar bahwa Rini memang mungkin sudah saatnya dewasa. Benar-benar kesalahanku, keluhnya.

Sendi yang merasa ada orang datang mulai terbangun. Kelopak matanya terbuka perlahan dan tampak tantenya memakai daster biru membelakanginya. Lekuk tubuh tantenya tampak indah dalam keremangan kamar. Dalam keadaan setengah sadar, ia masih merasakan kenikmatan yang baru saja dilaluinya bersama Rini. Tak terasa beberapa saat kemaluannya menegang kembali.
Kebutuhan yang mulai mendesak itu membuat Sendi mulai salah tingkah. Tiba-tiba saja ia ingin menyentuh tubuh tantenya yang berada di hadapannya. Apalagi lekuk tubuh tantenya terlihat sangat indah. Namun ia sangat takut apabila tantenya marah. Maka ia pun berpura-pura tidur dan memejamkan mata. Dalam keadaan yang mulai birahi kembali Sendi memutar otaknya agar dorongannya tersebut terpuaskan. Maka dengan pura-pura dalam keadaan tidur Sendi menggerakan badannya untuk dapat memeluk tubuh tantenya.

Tante Lola yang merasa tubuh Sendi bergerak segara membalikkan badan dan memeluk tubuh Sendi. Buah dadanya yang hanya dibalut daster biru terasa menyentuh bagian muka Sendi. Tante Lola pun mulai membelai kepala Sendi dengan penuh kelembutan. Diperhatikan ponakan laki-lakinya dari atas kepala dan turun ke bawah. Pasti banyak yang naksir, ucap tante Lola dalam hati melihat kepolosan wajah ponakannya itu.

Tiba-tiba wajah Tante Lola memerah. Tak sengaja matanya menyapu penis Sendi yang agak menegang. Ia berusaha menenangkan diri bahwa yang dihadapannya adalah keponakannya sendiri. Namun jantungnya semakin berdebar-debar. Apa lagi diusia yang telah memasuki usia tiga puluh tahunan ini ia belum pernah disentuh laki-laki. Kebutuhan seksualnya selama ini ia alihkan dengan menyibukkan diri pada pekerjaan. Sebagai wanita matang, selama ini ia belum pernah melihat tubuh laki-laki dewasa dalam keadaan telanjang. Tubuh Sendi pun juga mulai mekar di usia tujuh belas tahun itu. Tiba-tiba kepala tante Lola terasa agak berkunang-kunang.

Tanpa sadar tangan Tante Lola mulai bergerak mendekati batang penis Sendi. Dengan perlahan-lahan agar Sendi tidak terbangun, Tante Lola mulai menyentuh batang penis Sendi. Terasa hangat dan agak keras. Dibelai-belai batang penis itu dengan penuh kelembutan. Ia membayangkan andai saja batang penis itu mendesak-desak di lubang kemaluannya. Matanya mulai terpejam. Tanpa sadar tangannya yang sebelah meremas buah dadanya sendiri. Terasa ada cairan hangat mengalir di dalam kemaluannya. Mau tidak mau Tante Lola mengakui bahwa ia mulai terangsang setelah menyentuh batang penis Ponakannya.

Tiba-tiba saja tangan Sendi bergerak. Rasa kaget itu membuat Tante Lola menghentikan sentuhannya. Ia memejamkan mata sambil berbaring dalam keadaan memeluk ponakannya. Harapannya adalah Sendi menganggapnya tidur.
Merasakan apa yang baru saja dilakukan tantenya terhadap penisnya, Sendi menjadi berani. Dibukanya ritsleting atas daster tantenya. Tampak di depan matanya buah dada yang lebih besar dari kepunyaan Rini. Tampak pula tonjolan mungil puting Tante Lola yang berwarna merah kecoklat-coklatan. Sendi sudah tidak sabar. Ia langsung mengulum puting susu tantenya yang sudah mulai menegang itu. Buah dada tantenya pun mulai terasa mengeras.

Tante Lola kebingungan dengan apa yang dilakukan ponakannya itu. Sekilas hampir saja ia beranjak bangun. Seharusnya ia menegur yang dilakukan ponakannya itu. Tapi jangan-jangan ia tahu apa yang tadi kulakukan, pikir Tante Lola. Ia menjadi takut sendiri kalau hal itu benar-benar terjadi. Pasti bisa memalukan dirinya jika ponakannya melapor pada mamanya.
Akhirnya dengan pasrah, Tante Lola tetap berpura-pura tidur. Apa lagi sentuhan lidah Lola pada putingnya membawa kenikmatan yang luas biasa. Bahkan ia mulai menikmati sepenuhnya ketika kuluman Lola disertai gigitan kecil. Tante Lola pun mengigit bibir karena cumbuan ponakannya.

“Ssshh..”, tanpa sadar Tante Lola mendesah penuh kenikmatan saat Sendi mengulum puting buah dadanya.
Ia pun memegangi kepala ponakannya dengan penuh kelembutan seperti tidak boleh membiarkan aktivitas itu berhenti. Kesadarannya mulai kabur dan seluruh tubuhnya menjadi sangat lemas.
Sendi tahu bahwa tantenya berpura-pura tidur. Ia juga tahu kalau tantenya benar-benar menikmati semua yang dia lakukan pada tubuh tantenya itu. Hal ini semakin membangkitkan keberaniannya. Ia segera membuka daster Tante Lola sambil terus mengulum puting serta meremas-remas tubuh Tante Lola. Dijilatinya seluruh tubuh tantenya.

“Enghh.., ahhng.., ahh.., nggssh”, Tante Lola mendesah tanpa mampu menahan apa yang dilakukan ponakannya tersebut.
Tubuhnya seperti tidak mau berhenti dijilati. Saat ini dia hanya ingin terus disentuh dengan penuh kemesraan.
Napas Sendi mulai ngos-ngosan. Kebutuhannya untuk memuaskan dorongan kebutuhannya membuat ia segera membuka celana dalam Tante Lola. Pemandangan bulu-bulu halus di sekitar kemaluan tantenya membuat Sendi semakin bernafsu. Diarahkan batang penisnya ke dalam selangkangan tante Lola.

“Sleep!”, Batang Penisnya pun telah masuk ke dalam lubang kemaluan tantenya.
Tante Lola merasakan tubuhnya dimasuki sesuatu yang terasa luar biasa enaknya. Matanya terpejam sangat dalam. Tubuhnya mulai merespon gerakan naik turun Sendi. Nafasnya tidak teratur dipenuhi dengan dorongan nafsu yang mulai tinggi.
“Aahh.., esshh.., ahh”, Tante Lola mulai mengerang kenikmatan.

Ia pun memegangi pantat Sendi untuk membantu gerakan naik turun. Mendengar suara desahan-desahan Rini pun terbangun. Ia sedikit terhenyak melihat tubuh tantenya dalam keadaan telanjang ditindih oleh Sendi. Dilihatnya Sendi dengan penuh nafsu menyetubuhi Tante Lola. Rini pun agak bingung bahwa Tantenya itu justru merepon dengan desahan-desahan. Tangan Sendi memegangi paha Tante Lola dan pinggangnya terus bergerak di sela-sela selangkangan tantenya itu. Melihat adegan sepupu serta desahan tantenya dalam ruangan yang remang-remang ini membuat Rini mulai terangsang.

Tanpa sadar Rini mendekati wajah tantenya itu. Diciumnya bibir Tante Lola. Tante Lola pun dalam keadaan yang sudah di awang-awang segera merespon ciuman itu dengan lumatan yang penuh birahi. Sendi sudah asyik dengan aktivitas maju-mundur untuk meningkatkan kenikmatannya.
“Eng.., ssh.., nikmat.., Sen”, desah Rini sambil disela-sela ciumannya dengan Tante Lola. Penis Sendi terasa semakin tersedot-sedot.
Suara kecepak kecepok menjadi semakin keras dan berirama sering dengan gerakan Penis Sendi memasuki liang vagina Tante Lola.
Rini semakin larut dengan permainan tante dan sepupunya itu. Vaginanya pun telah menjadi basah karena terangsang melihat adegan sepupu dan tantenya itu. Kepala Rini kemudian bergerak turun. Bibirnya mengulum puting dan tangannya meremas-remas buah dada tantenya.

“Enghss.., enghh.., terusshhin.., engshh”, Tante Lola semakin merasa terbang di awang-awang.
Gerakan Sendi membuat vaginanya terasa sangat nikmat. Jilatan lidah Rini pada putingnya semakin membuat nafsunya menjadi-jadi. Nafasnya menjadi semakin tidak teratur. Cumbuan kedua ponakannya memenuhi kebutuhan seksualnya yang sudah tertahan belasan tahun. Tubuhnya pun ikut maju-mundur seiring dengan gerakan Sendi. Ia pun semakin mempererat pelukannya pada Sendi. Gerakan maju-mundur Sendi diimbangi dengan gerakan bergoyang-goyang oleh Tante Lola.

Aktivitas ini membuat ia merasa ada sesuatu yang mendesak. Tante Lola semakin mempercepat goyangannya. Ia memeluk Lola sangat erat sambil terus mengoyangkan pinggulnya dengan cepat. Tiba-tiba tubuh Tante Lola menegang dan vaginanya berdenyut-denyut seperti meledakkan sesuatu. Ia merasa tubuhnya hancur berkeping-keping dalam kenikmatan.
“Sen.., ganti aku aja.., Tante udah lemas tuh”, ucap Rini tanpa malu-malu. Ia segera mengangkangkan kakinya. Nafsunya sudah memuncak dan harus dipenuh. Seluruh bagian tubuhnya seperti menuntut untuk dicumbui.

Sendi pun menarik penis dari kemaluan tantenya yang telah terkulai itu.
Diarahkannya batang kemaluannya itu ke arah lubang kemaluan Rini yang telah mengangkang itu. “Sleep!”, Penisnya langsung terasa tersedot-sedot. Ditindihnya tubuh sepupunya itu.
Mereka sudah dikuasai oleh birahi yang tak tertahankan. Kebutuhan itu saling memuaskan membuat tidak ada lagi kecanggungan diantara mereka. Sendi menciumi buah dada Rini sambil pinggang melakukan gerakan naik turun. Rini melingkarkan tangannya pada punggung Sendi.
“Enghh terusshh.., Sen.., masukin terus.., enggsshh”, desah Rini sambil matanya masih terus terpejam.

Dengan perlahan Sendi menarik tubuh Rini agar duduk di atas pinggang Sendi. Posisi ini semakin membuat penis Sendi lebih bisa masuk lebih dalam lagi. Tangan Snedi memegangi pantat sepupunya itu. Rini juga merasa vaginanya terisi lebih penuh oleh batang kemaluan Sendi.
Sendi semakin merasa penisnya disedot-sedot oleh kemaluan sepupunya. Rini yang berada di atas tubuh Sendi mulai menggerakkan badannya. Keduanya telah larut dalam gerakan berirama. Sendi semakin memperdalam gerakannya pada selangkangan sepupunya. Rini pun mencontoh gerakan tantenya dengan menggoyang-goyang pinggangnya.
“Enghh.., terus.., Sen.., Enghh enaahkk”, mata Rini terpejam dan bibirnya mendesah.

Sendi terus menggerakan pinggangnya semakin cepat. Goyangan Rini pun menjadi samakin cepat pula. Kedua tubuh itu telah menyatu dalam kebutuhan yang tak tertahankan. Vaginanya terasa semakin berdenyut-denyut oleh sodokan-sodokan penis sepupunya itu.
“Lebihh kerashh.., enghh lagi”, Rini merasakan tubuhnya akan meledak.
Gerakan keduanya menjadi semakin cepat dan keras. Tiba-tiba saja tubuh keduanya menegang secara bersamaan tanda mereka mencapai puncak kenikmatan bersamaan. Beberapa saat kemudian ketiganya sudah tertidur pulas dalam keadaan telanjang

Peristiwa semalam tampaknya dianggap seperti tidak pernah ada oleh Tante Lola. Saat makan pagi, tante Lola tampak berusaha bersikap santai.
“Sen, kamu mau kemana hari ini”, tanya Tante Lola sambil mengoleskan mentega pada roti tawarnya.
Ia sudah mengenakan busana kerja. Blus krem dan rok span abu-abu.
“Mungkin ke toko buku, ada novel Shedney Shieldon yang baru”, ucap Sendi sambil berpura-pura membaca koran.

Ia masih sungkan dengan Tante Lola mengingat apa yang dilakukannya semalam. Ia takut kalau sampai Tante Lola lapor ke mamanya. Bisa-bisa aku dibunuh oleh Papa, pikirnya.
“Kalau gitu ini buat beli novelnya”, ucap Tante Lola sambil menyodorkan dua lembar uang lima puluh ribuan.
Sendi pun mendongakan kepalanya sambil terheran-heran. Dilihatnya Tante Lola mengangguk. Tanda ia harus menerima uang itu.
“Makasih ya, Tante”, ucap Sendi sambil menyorongkan badannya memeluk Tante Lola, Mereka pun berangkulan erat.

Tiba-tiba Tante Lola berbisik”, Yang tadi malem jangan kasih tau siapa-siapa ya, Sen”.
“Iya, Tante”. Kemaluan Sendi terasa mengeras.
“Terus kalau Sendi takut tidur sendirian, tidur di kamar Tante aja ya”, ucap Tante Lola dengan nada datar.
Ia tidak mau Sendi menangkap keinginannya. Namun bagi Sendi kata-kata itu seperti undangan yang sangat jelas maksudnya.
Sendi pun sedikit melonggarkan pelukannya dan melihat wajah Tante Lola tampak agak memerah. Hasrat untuk melakukan aktivitas seperti semalam menggelegak dalam dirinya. Tanpa sadar diciumnya bibir Tante Lola. Pertama lembut namun kemudian semakin ganas. Kebutuhannya mulai tak tertahankan. Tante Lola sempat gelagapan dengan apa yang dilakukan oleh sendi. Ia tidak mengira Sendi sudah berani terang-terangan. Namun sekian detik kemudian ia mulai membalas ciuman itu. Mereka saling melumat lidah dan menghisap. Ia bahkan membiarkan tangan Sendi membuka kancing blusnya.

Tangan Sendi segera menyisihkan BH dan meremasi buah dadanya. Semakin lama buah dada itu terasa mengeras.
“Sudah, Sen. Tante mau ke kantor”, ucap Tante Lola sambil berpura-pura tidak mau.
Namun tampaknya Sendi tidak peduli. Ia mulai menciumi leher tante Lola dengan lembut. Tangannya yang satu bahkan mulai mengangkat span abu-abu itu hingga celana dalam tante Lola terlihat. Tangan Sendi pun mulai menggerayangi sesuatu yang ada di balik celana dalam itu.
“Ash.., neghh, udah, Sen”, desah Tante Lola. Ia tidak ingin terlambat.

Tender proyek dua M itu bisa hilang, pikir tante Lola. Namun apa yang dilakukan ponakannya ini benar-benar terasa nikmat. Akhirnya ia membalikkan badan dan segera menurunkan celana dalamnya.
“Udah, Sen dari belakang aja”, ucap Tante Lola sungguh-sungguh.
Desi, teman kantornya, pernah mengatakan kalau pria bersetubuh lewat belakang akan cepat ejakulasi. Paling tidak ia masih sempat merasakan persetubuhan dan tidak terlambat ke kantor.
Kesempatan itu tidak disia-siakan Sendi. Dipelorotkannya celana pendeknya. Batang penisnya tampak sudah sangat tegang. Perlahan diarahkannya penisnya ke vagina Tante Lola. “Slepp!”, Penis Sendi mulai memasuki lubang kemaluan Tante Lola. Lututnya seperti hampir copot ketika penis itu masuk ke dalam lubang vagina Tante Lola. Tante Lola juga segera merasa lemas. Ia pun segera menahan badannya pada sandaran sofa. Posisinya seperti orang yang akan naik kuda.

“Eenghh.., nikmat, terusshh”, desah Tante Lola sambil memejamkan mata. memegangi pinggang tantenya dan terus menyodok-nyodokan penisnya ke vagina Tante Lola. Penisnya terasa seperti dipijat-pijat dan disedot-sedot. Ia kemudian ikut membungkukkan badan agar tangannya dapat meremas buah dada Tante Lola yang ranum menggantung.
Gerakan mereka makin lama makin cepat. Tante Lola sudah tertelungkup di sandaran sofa dan Sendi menyetubuhinya dari belakangnya. Kenikmatan itu semakin membuat ia lupa urusan kantornya.
“Terusshh, Sen.., enakk”, desah Tante Lola.

Beberapa saat kemudian Sendi mempercepat gerakannya. Ia memeluk erat tubuh Tante Lola namun pinggangya masih melakukan gerakan maju-mundur. Tiba-tiba tubuhnya mengejang sambil penisnya disorongkan secara mendalam ke lubang kemaluan Tante Lola. Ia telah sampai di pucak kenikmatan.
“Cret.., cret.., cret”, sperma Sendi membasahi lubang kemaluan Tante Lola.
Ia kemudian menarik penisnya dan segera menjatuhkan badannya ke sofa.

Tante Lola segera menaikkan celana dalamnya dan merapikan blus serta rok mininya. Dilihatnya ponakannya memandang dengan mesra. Tampaknya kecanggungan diantara mereka sudah luntur dan berganti hubungan dua lawan jenis yang saling membutuhkan. Tante Lola pun mau tidak mau mulai mengakui bahwa ia tidak lagi melihat Sendi sebagai ponakannya namun tak lain sebagai pria yang mampu memberikan kepuasan seksualnya.
“Udah, ya Tante ke kantor dulu”, ucap Tante Lola sambil mendekati Sendi.
Mereka berciuman dengan mesra seperti seorang kekasih. Setelah melihat jam di dinding, Tante Lola segera beranjak ke garasi. Ia sudah terlambat sepuluh menit. Tak lama kemudian deru suara mobil pun berbunyi dan semakin lama semakin menghilang. Sendi pun segera memakai celananya dan tertidur di sofa.

BandarQiu
25.000
BCA - BNI - MANDIRI - BRI - DANAMON

 photo 200x200-1_zpsl0ok4zig.gif

POKERKIUKIU
15.000
 judi capsa

POKERVOVO
25.000

QQDOMINO
50.000
judi domino

AYO99
25.000

 Judi Poker